inilah kampung halaman saya.
Desa
Kudadepa merupakan suatu bagian dari wilayah Kecamatan Sukahening.
Jarak dari Kantor Desa ke ibu kota Kecamatan sekitar 5 KM. Sedangkan
jarak ke Kota Tasikmalaya sekitar 22 KM atau sekitar 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.
kaya gini sejarahnya.
Bercerita
mengenai sejarah suatu daerah khususnya wilayah perkampungan Kudadepa
yang sekarang menjadi wilayah Desa, memiliki sejarah tersendiri. Menurut
Dudus, S.Ag atau yang memiliki julukan khas DeKa ChaN RiKsa, silsilah
nama kudadepa ada kaitannya dengan kerajaan sumedang Larang. Data ini
kami peroleh berdasarkan hasil wawancara. Dudus sendiri merupakan tokoh
terkemuka di desa Kudadepa.
Konon,
Sumedang larang yang letaknya di Gunung Tembong Agung didirikan pada
jaman kekuasaan Prabu Tajimalela pada tahun 1340 Masehi. Sebelum Tajimalela
meninggal dunia, kerajaan diteruskan oleh anak kandungnya yang bernama
Prabu Atmabrata yang dikenal dengan sebutan Prabu Gajah Agung. Dimana
pada tahun 1529 Masehi, waktu itu agama islam mulai menyebar ke negeri
kerajaan Sumedanglarang, tokoh yang menyebarkan syiar islam tersebut
Syekh Maulana Muhamad seorang putra dari Syekh Maulana Abdurrahman.
Ketika itu diantaranya ada yang keturunan bangsawan serta yang pertama
kali memeluk agama islam adalah Parung Gangsa anak kelima Prabu Gajah Agung.
Diantara
keturunan Parung Gangsa, yaitu pangeran Angkawijaya yang lahir pada
tanggal 19 Juli 1558 Masehi dan memiliki gelar Prabu Geusan Ulun
Sumedanglarang pada tahun 1590 Masehi yang mewarisi tahta penerus
kepemimpinan kerajaan Sumedanglarang pada masanya. Tercatat, peta
wilayah kekuasaannya termasuk Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.
Pada
suatu hari Prabu Geusan Ulun mengutus dua orang pangeran untuk
menentukan batas wilayah antara Tasikmalaya dan Garut. Dua Pangeran
tersebut sangat patuh terhadap apa yang diperintahkan Prabu Geusan Ulun.
Suatu hari, dua pangeran tersebut oleh Prabu Geusan ulun diberi kuda
masing-masing satu ekor. Selama berminggu-minggu dua pangeran tersebut
menelusuri jalan, turun naik
gunung, dan melewati hutan belantara. Dalam perjalanannya, meskipun di
hadapkan dengan hewan buas tidak membuat gentar si dua orang pangeran
tersebut. Hingga pada akhirnya dua Pangeran tersebut sampai di tujuan
dengan selamat.
Setibanya di tempat tujuan kedua pangheran tersebut mulai menentukan batas wilayahnya. Naiklah
dua pangeran itu ke kudanya masing-masing mengejar arah timur.
Terkadang di tengah perjalannnya keduanya beristirahat atau sindang
(Bahasa Sunda) di suatu tempat perkampungan yang mana sekarang tempat
persinggahan kedua pangeran tersebut di kenal menjadi kampung
Panyindangan. Namun, etika
kedua pangeran itu hendak meneruskan perjalanannya, salahsatu kudanya
kelelahan hingga tidak dapat lagi ditungganginya. Karena waktu sudah
mulai sore kedua pangeran mencari tempat peristirahatan. Dan si kuda
yang kecapean ditinggalkan di bawah sebuah pohon besar. Dan perjalanan
pun kembali dilanjutkan.
Pada
suatu tempat kedua pangeran tersebut akhirnya menemukan sebuah rumah
kecil yang kusam tidak terawat dan halamannya juga penuh dengan berbagai
tanaman. Penghuni rumah tersebut adalah sepasang orangtua yang bernama
Nini Anti dan suaminya Aki Ibah. Keduanya sangat baik menyambut kedua
pangeran. Oleh karena kecilnya rumah tersebut, dengan terpaksa di buat
rumah darurat disampingnya. Konon, bangunan tambahan tersebut kelak
dikenal sebagai Balandongan. Hingga sekarang tempat peristirahatan kedua
pangeran tersebut dikenal dengan kampung Balandongan, yang secara
kewilayahan masuk ke Desa Sundakerta, tetangga terdekat Desa Kudadepa.
Dan
ketika kedua pangeran tersebut berniat ingin kembali ke Karajaan
Sumedang Larang, Nini Anti dan Aki Ibah mengantarkan kedua pangeran
tersebut hanya sebatas sampai di mana tempat kuda kedua pangeran itu
disimpan. Sesampainya ke tempat kudanya ditinggalkan, ternyata kuda
tersebut dalam keadaan tengkurap atau Depa (Bahasa Sunda). Salahsatu pangeran menyarankan ke Nini Anti jeung Aki Ibah agar tempat tersebut diberi nama kampung Kudadepa atau lembur Kudadepa.
Hingga kini, Desa
Kudadepa sudah memiliki 4 kadusunan/kapunduhan. Yakni dusun Kudadepa,
Ciengang, Pamedusan dan Pangkalan. Dan sekarang dihuni oleh sekitar 3.273
Jiwa.