Jumat, 01 Maret 2013

Sekilas tentang Kudadepa

inilah kampung halaman saya. 
 Desa Kudadepa merupakan suatu bagian dari wilayah Kecamatan Sukahening. Jarak dari Kantor Desa ke ibu kota Kecamatan sekitar 5 KM. Sedangkan jarak ke Kota Tasikmalaya sekitar 22 KM atau sekitar 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.


kaya gini sejarahnya.
Bercerita mengenai sejarah suatu daerah khususnya wilayah perkampungan Kudadepa yang sekarang menjadi wilayah Desa, memiliki sejarah tersendiri. Menurut Dudus, S.Ag atau yang memiliki julukan khas DeKa ChaN RiKsa, silsilah nama kudadepa ada kaitannya dengan kerajaan sumedang Larang. Data ini kami peroleh berdasarkan hasil wawancara. Dudus sendiri merupakan tokoh terkemuka di desa Kudadepa.
Konon, Sumedang larang yang letaknya di Gunung Tembong Agung didirikan pada jaman kekuasaan Prabu Tajimalela pada tahun 1340 Masehi. Sebelum Tajimalela meninggal dunia, kerajaan diteruskan oleh anak kandungnya yang bernama Prabu Atmabrata yang dikenal dengan sebutan Prabu Gajah Agung. Dimana pada tahun 1529 Masehi, waktu itu agama islam mulai menyebar ke negeri kerajaan Sumedanglarang, tokoh yang menyebarkan syiar islam tersebut Syekh Maulana Muhamad seorang putra dari Syekh Maulana Abdurrahman. Ketika itu diantaranya ada yang keturunan bangsawan serta yang pertama kali memeluk agama islam adalah Parung Gangsa anak kelima Prabu Gajah Agung.
Diantara keturunan Parung Gangsa, yaitu pangeran Angkawijaya yang lahir pada tanggal 19 Juli 1558 Masehi dan memiliki gelar Prabu Geusan Ulun Sumedanglarang pada tahun 1590 Masehi yang mewarisi tahta penerus kepemimpinan kerajaan Sumedanglarang pada masanya. Tercatat, peta wilayah kekuasaannya termasuk Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.
Pada suatu hari Prabu Geusan Ulun mengutus dua orang pangeran untuk menentukan batas wilayah antara Tasikmalaya dan Garut. Dua Pangeran tersebut sangat patuh terhadap apa yang diperintahkan Prabu Geusan Ulun. Suatu hari, dua pangeran tersebut oleh Prabu Geusan ulun diberi kuda masing-masing satu ekor. Selama berminggu-minggu dua pangeran tersebut menelusuri jalan, turun naik gunung, dan melewati hutan belantara. Dalam perjalanannya, meskipun di hadapkan dengan hewan buas tidak membuat gentar si dua orang pangeran tersebut. Hingga pada akhirnya dua Pangeran tersebut sampai di tujuan dengan selamat.
Setibanya di tempat tujuan kedua pangheran tersebut mulai menentukan batas wilayahnya. Naiklah dua pangeran itu ke kudanya masing-masing mengejar arah timur. Terkadang di tengah perjalannnya keduanya beristirahat atau sindang (Bahasa Sunda) di suatu tempat perkampungan yang mana sekarang tempat persinggahan kedua pangeran tersebut di kenal menjadi kampung Panyindangan. Namun, etika kedua pangeran itu hendak meneruskan perjalanannya, salahsatu kudanya kelelahan hingga tidak dapat lagi ditungganginya. Karena waktu sudah mulai sore kedua pangeran mencari tempat peristirahatan. Dan si kuda yang kecapean ditinggalkan di bawah sebuah pohon besar. Dan perjalanan pun kembali dilanjutkan.
Pada suatu tempat kedua pangeran tersebut akhirnya menemukan sebuah rumah kecil yang kusam tidak terawat dan halamannya juga penuh dengan berbagai tanaman. Penghuni rumah tersebut adalah sepasang orangtua yang bernama Nini Anti dan suaminya Aki Ibah. Keduanya sangat baik menyambut kedua pangeran. Oleh karena kecilnya rumah tersebut, dengan terpaksa di buat rumah darurat disampingnya. Konon, bangunan tambahan tersebut kelak dikenal sebagai Balandongan. Hingga sekarang tempat peristirahatan kedua pangeran tersebut dikenal dengan kampung Balandongan, yang secara kewilayahan masuk ke Desa Sundakerta, tetangga terdekat Desa Kudadepa.
Dan ketika kedua pangeran tersebut berniat ingin kembali ke Karajaan Sumedang Larang, Nini Anti dan Aki Ibah mengantarkan kedua pangeran tersebut hanya sebatas sampai di mana tempat kuda kedua pangeran itu disimpan. Sesampainya ke tempat kudanya ditinggalkan, ternyata kuda tersebut dalam keadaan tengkurap atau Depa (Bahasa Sunda). Salahsatu pangeran menyarankan ke Nini Anti jeung Aki Ibah agar tempat tersebut diberi nama kampung Kudadepa atau lembur Kudadepa.
Hingga kini, Desa Kudadepa sudah memiliki 4 kadusunan/kapunduhan. Yakni dusun Kudadepa, Ciengang, Pamedusan dan Pangkalan. Dan sekarang dihuni oleh sekitar 3.273 Jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar